Wamena,kilktimur.com – Provinsi Papua Pegunungan menjadi wilayah terakhir di Indonesia yang menyelesaikan sosialisasi dan penyusunan rencana kerja Subnasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Kegiatan yang difasilitasi Kementerian Kehutanan ini melibatkan delapan kabupaten, se- provinsi Papua pegunungan serta OPD,

kepala suku, masyarakat adat, dan dukungan negara donor seperti urgai , Swiss, serta California.serta negara lainnya.“Ini program yang dilaksanakan oleh Kementerian Kehutanan di seluruh Indonesia. Kami di sini adalah provinsi yang paling terakhir melaksanakan FOLU Net Sink 2030. Jadi mulai tahun ini, 2026, baru dapat jadwal kegiatan sosialisasi folu net sink 2030,” ujar kepala dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Perhubungan. Lince Kogoya Rubu ( 22/4/2026).Kegiatan tersebut di laksanakan salah satu hotel balim pilamo wamena.Susun Rencana kerja 2026-2030, Dana Siap Disalurkan ke 8 KabupatenPenyusunan rencana kerja 2026-2030 dilakukan bersama OPD terkait, organisasi masyarakat, kepala-kepala suku, dan pemerintah delapan kabupaten. Hasilnya menjadi dasar pemetaan lahan tidur, lahan produksi, dan hutan lindung di Papua Pegunungan.“Hari ini kita susun renja untuk 2026 sampai 2030. Beberapa dinas dan OPD yang terkait sudah sama-sama dengan kami, terus organisasi masyarakat, kepala-kepala suku yang hadir, dan beberapa kabupaten juga hadir,” jelasnya. Di WamenaDana program disebut sudah siap. Setelah sosialisasi bulan ini, pertemuan kedua akan digelar di Wamena pada bulan Mei 2026 lalu dilanjutkan MoU pembagian anggaran di Jakarta. “Setiap kabupaten akan mendapat pembagian anggaran dan menyusun renja masing-masing,” tambahnya.Tim Kementerian Kehutanan turun langsung ke Wamena, mulai dari staf kementerian, staf ahli menteri, dirjen, hingga direktur. “ semua datang ke sini, penyusunannya sama-sama,” kata dia.Hutan Masih Murni, Jadi Benteng Karbon IndonesiaTim Kementerian Kehutanan menilai hutan alam di Papua Pegunungan dan delapan kabupatennya masih murni. “Mereka sampaikan bahwa Papua Pegunungan dengan 8 kabupaten, dengan dia punya hutan alam yang ada itu masih murni. Jadi tidak ada gesekan-gesekan yang merusak hutan alam,” ujarnya.Meski ada pemanfaatan kayu oleh masyarakat untuk rumah dan kebutuhan ekonomi, kondisi hutan secara keseluruhan dinilai baik. Kementerian berpesan agar kewaspadaan ditingkatkan dan hutan tetap dijaga.Empat Poin Utama Rencana Kerja: Konektivitas, Deforestasi, Adat, dan Indikator TerukurWorkshop FOLU Net Sink 2030 Papua Pegunungan menekankan empat poin utama:1. Keseimbangan Konektivitas dan KonservasiSebagai provinsi baru, kebutuhan infrastruktur sangat tinggi. Tantangannya memastikan pembangunan menerapkan prinsip Green Infrastructure untuk meminimalkan deforestasi.2. Cegah Deforestasi Sejak DiniPembukaan lahan pangan yang tidak terencana berisiko memicu banjir dan longsor. Rencana kerja wajib menyertakan kajian risiko lingkungan agar produktivitas pangan tidak mengorbankan keselamatan ekologis.3. Masyarakat Adat sebagai Aktor Utama*Pengakuan hutan adat dan pelibatan masyarakat dalam menjaga hutan disebut kunci sukses. Perlindungan hutan berbasis kearifan lokal dinilai lebih efektif dan berkelanjutan.4. Dokumen Kerja Implementatif dan TerukurSeluruh OPD dan stakeholder diminta menyusun rencana dengan indikator kinerja jelas agar target penurunan emisi dapat dipantau dan dilaporkan transpalestarRencana kerja FOLU Net Sink 2030 Papua Pegunungan periode 2026-2030 ini diharapkan menjadi acuan delapan kabupaten untuk menjaga hutan sekaligus membangun daerah, serta membuka peluang dukungan internasional bagi pengelolaan hutan lestari.(Gadiel Gombo)
Eksplorasi konten lain dari Kliktimur
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

