Wamena,kliktimur.com – Kementerian Kehutanan Republik Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan menggelar sosialisasi Sub nasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 untuk Provinsi Papua Pegunungan. Kegiatan dilanjutkan dengan workshop penyusunan rencana kerja subnasional yang dijadwalkan berlangsung, selama dua hari, Selasa, Rabu.
Kegiatan ini dinilai penting untuk menerjemahkan komitmen nasional Indonesia terhadap agenda iklim global dengan kebutuhan pembangunan di Papua Pegunungan. Kegiatan tersebut berlangsung di Salah satu hotel balim pilamo wamena, Selasa, (21/4/2026)
“Kita tahu bahwa sektor kehutanan yang dalam target NDC Indonesia disebut sebagai sektor FOLU, Forestry and Other Land Use, menjadi tumpuan untuk pencapaian target NDC Indonesia. Hampir 60% dari target pengurangan emisi gas rumah kaca dibebankan kepada sektor FOLU,” ujar Prof. Dr.Haruni krstinawati, S.Hut.,M.Si,. Staf alih kementerian kehutanan bidang perubahan iklim selaku ketua harian / Indonesia ,s Folu net sink 2030. Diwamena.
Menurutnya, kerja sama semua pihak menjadi kunci. Tidak hanya pemerintah pusat dan pemerintah daerah, tetapi juga swasta, akademisi, kelompok masyarakat, dan media.
Papua Pegunungan Benteng Hutan Tropis
Kondisi hutan di Papua Pegunungan disebut masih bagus. Tutupan hutan mencapai lebih dari 80% dan masih terjaga. “Harapannya Papua Pegunungan akan menjadi provinsi yang menjadi benteng dalam menjaga hutan tropis kita,” katanya.
Ia optimistis, dengan dukungan Pemprov Papua Pegunungan beserta jajaran, Dinas Lingkungan Hidup Kehutanan dan Pertanahan, OPD, serta delapan kabupaten, target nasional dapat tercapai sekaligus menjawab kebutuhan pembangunan daerah.
“Bagaimana kegiatan pembangunan di Papua Pegunungan bisa diselaraskan dengan menjaga kepentingan ekologis, ekonomi, dan sosial. Jadi ekonomi terjaga, ekologis dijaga, dan kepentingan kesejahteraan masyarakat juga kita perhatikan,” ujarnya.
Setelah rencana kerja subnasional tersusun, Papua Pegunungan diharapkan bisa menjadi salah satu champion pengelolaan hutan lestari. Hal itu juga membuka peluang dukungan internasional masuk ke Papua Pegunungan.
Prioritaskan Lokasi Emisi Tinggi dan Serapan Tinggi
Dalam rencana operasional FOLU Net Sink 2030 yang diterjemahkan ke rencana kerja bidang dan subnasional, lokasi aksi mitigasi akan diprioritaskan. Fokusnya pada areal dengan potensi atau risiko emisi tinggi dan potensi serapan karbon tinggi.
“Termasuk bagaimana kondisi biofisik dan sosial ekonomi masyarakat itu juga menjadi perhatian. Harapannya pembangunan tetap berjalan, hutan tetap kita jaga, dan masyarakat sejahtera. Itu komitmen kita bersama,” jelas perwakilan Kemenhut.
Lanjut Tempat yang sama PLT sekretaris daerah provinsi Papua pegunungan. Drs. Wasuok Demianus Siep.
Pemprov: Potensi Karbon Tinggi Harus Dijaga Bersama
Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan menyampaikan terima kasih kepada Menteri Kehutanan. Meski menjadi provinsi terakhir yang menjalankan program ini, Papua Pegunungan memiliki potensi serapan karbon yang tinggi karena tutupan hutan di atas 80%.
“Berarti ini salah satu potensi yang bisa kita jaga bersama semua pihak. Menjaga lingkungan hidup sehingga kita bisa menjamin dunia, karena gas-gas yang kita miliki ini adalah salah satu potensi dari semua yang ada, terutama di Papua secara keseluruhan,” kata Sekda Provinsi Papua Pegunungan.
Ia menyebut, dari delapan kabupaten, tutupan hutan tertinggi ada di Yahukimo, Nduga, dan Yalimo. “Harapan kami, harapan pemerintah, semoga ini betul-betul kita jaga. Jaga, pelihara supaya tetap potensi. Jangan kita hancurkan, tapi ini perlu kita jaga bersama,” tegasnya.
Papua Pegunungan dikategorikan sebagai provinsi High Forest, Low Deforestation. “Mudah-mudahan ini tetap terjaga. Menjaga itu lebih sulit. Dengan adanya program ini, kita semakin harus konsisten,” tutupnya.
Workshop penyusunan rencana kerja subnasional FOLU Net Sink 2030 Papua Pegunungan akan dilaksanakan pada Rabu (22/4/2026).(Gadiel Gombo)
Eksplorasi konten lain dari Kliktimur
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

