Wamena,kliktimur.com – Jika perut jadi masalah, maka doa jadi jawaban. Itu pesan di balik 141,9 ton beras yang akhirnya tiba di Gudang Bulog Wamena, Senin (21/9/2026 di Wamena,
Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol menyerahkan beras
414,9 ton
kepada bupati Jayawijaya tahap awal. Pahabol juga memastikan beras untuk Jayawijaya ini baru pembuka. Masih ada 7 kabupaten lain yang menunggu giliran dari total 414,9 ton yang diusulkan.
“Atas nama masyarakat melalui Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, kami menyampaikan terima kasih kepada Kepala Badan Pangan Nasional, Kementerian Sosial dan Kementerian Pertanian,” kata Ones.
“Karena waktu lalu kami menyurat, sehingga dari delapan kabupaten, hari ini ada di Jayawijaya 141 ton,” ujarnya.
Ones menjelaskan, kekeringan tidak hanya terjadi di Jayawijaya. Ladang di seluruh Pegunungan tengah kering kerontang.
“Kondisi kekeringan ini hampir sama, apalagi letak wilayah daerah-daerah ini terjal. Jadi tanaman sampai umbi jalar yang ada di dalam juga kekeringan, dari atas sampai umbinya sudah kering,” ucapnya.
Turunnya bantuan ini, kata dia, adalah bukti pusat mendengar dengan hati ayah.
“Begitu dengar tujuh kabupaten, hari ini 141 ton beras turun, berarti pemerintah ini adil sebagai ayah yang bijak,” katanya.
“Harapannya permohonan yang kami sudah ajukan, dalam waktu dekat 7 kabupaten lainnya segera turun bantuannya,” ujarnya.
Di tengah tumpukan beras, Ones juga menepis isu retak dengan Gubernur. Baginya itu hanya salah paham kecil.
“Itu saya pikir tidak ada masalah sama sekali. Itu miskomunikasi saja antara gubernur dengan wakil gubernur,” kata Ones.
“Kami sangat menjunjung tinggi kehormatan sebagai wakil gubernur yang satu paket dengan Garuda di dada. Pertama, kita akur,” ujarnya.
Ia menegaskan surat yang ia kirim ke Jakarta sah, bukan ilegal.
“Bapak Gubernur itu hati yang sangat tulus dan murni. Hanya ada pihak-pihak lain bilang surat Wakil Gubernur tidak sah. Kalau tidak sah, undang-undang tidak ada Wakil Gubernur. Secara hierarki, Gubernur dan Wakil Gubernur itu sama haknya,” tegasnya.
Menurut Ones, beras ini turun bukan karena hebatnya surat, tapi kuatnya doa.
“Kondisi masyarakat yang sangat prihatin, mereka menangis, kita juga ikut menangis. Kita bicara dengan pusat dengan hati tulus, pusat memberikan bantuan luar biasa,” ucapnya.
“Hanya WA saja, pemerintah pusat jawab. Itu berarti kami yakin doa masyarakat Papua Pegunungan ini sangat besar,” ujarnya.
Ia pun meminta maaf dan meminta jangan ada yang mengadu domba dua pimpinan.
“Saya sampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya dengan ketulusan hati kepada Bapak Gubernur. Kami dua ini orang tua yang harus memberi contoh baik,” kata Ones.
“Harap sekali kami orang tua jangan diganggu dengan anak-anak kiri kanan yang memasukkan hal yang salah,” ujarnya.
Di akhir, Ones mengingatkan: beras ini jembatan, bukan tujuan.
“Kasih pengarahan sama masyarakat bahwa beras ini pengganti makanan. Jadi kami makan beras ini, siapkan kebun. Itu penting sekali untuk lima, enam bulan akan datang,” katanya.
“Jangan alasan kekeringan akhirnya kita kelaparan. Hari ini pemerintah pusat dan daerah mempersiapkan ini supaya lima bulan ke depan kita tidak lapar,” pungkasnya. Gadiel Gombo)
Eksplorasi konten lain dari Kliktimur
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


