Wamen,kliltur.com- Lahir kembar, tapi tidak kembar. Lahir berdua, tapi yang hidup cuma satu.
28 Oktober 2026, pukul 22.00 WIT. Mama dari Jayawijaya melahirkan di Rumah sakit umum Daerah RSUD Wamena. Bayinya beda.
“Bayinya kita dapati ada kelainannya,” kata Plt Direktur RSUD Wamena, dr. Charles Christian Ratulangi. Diruangan kerjanya Rabu, (4/11/2026) Wamena
“Tangannya ada empat, kakinya ada empat, tapi sebenarnya kasus ini adalah dia kasus kembar siam,” ujarnya.
Satu janin, gagal belah dua.
“Kasus kembar siam yang tidak sempurna, dia tidak sempurna untuk memisah,” katanya.
“Jadi dia tidak terpisah dengan sempurna, sehingga ada bagian yang menempel di antara dua bayi,” tambahnya.
Satu tumbuh, satu berhenti.
“Bayi yang satu meninggal. Artinya dia tidak tumbuh, sehingga dia seperti menjadi parasit atau menempel di bayi yang satunya,” jelas dr. Charles.
Sekarang satu tubuh, dua nasib.
Dokter tidak bisa asal pisah.
“Tidak semudah langsung kita pisahkan, karena kita harus kaji betul ini yang menempel ini, menempel apanya,” katanya.
“Kalau dilihat dari luar dia menempel di bagian perut, tapi di perut ini kan banyak ada ususnya, ada dia punya hati, dia punya ginjal, dia punya limpa,” ujarnya.
Wamena mentok. Alat tidak ada.
“Memang yang paling pas itu pemeriksaannya dengan MRI, tapi kita tidak punya di sini,” kata dr. Charles.
“Kalau dia berbaginya berbagi hati atau berbagi ginjal, itu kan tidak semudah itu di potong buang,” tegasnya.
Jalan keluar: rujuk jauh.
“Kami akan merujuk ke tempat yang memungkinkan untuk dilakukan operasinya, apakah itu di Jayapura atau mungkin keluar Papua,” ujarnya.
Tapi jalan ke sana juga susah.
“Satu kesulitan kami di sini itu masalah transportasi. Tidak semudah itu merujuk bayi kecil, kemudian tidak semudah itu juga langsung naikkan pesawat,” katanya.
RSUD Wamena kini gandeng Jayapura dan RSAB Harapan Kita Jakarta.
“Kami akan upayakan koordinasi dengan RSAB Harapan Kita selaku Rumah Sakit Pengampu kami,” ujarnya.
Pesan dokter untuk semua mama: Jangan tunggu lahir baru panik.
“Pentingnya kita lakukan pemeriksaan kehamilan, dengan USG itu tujuannya untuk kita bisa melihat secara dini mungkin ada kelainan apa yang terjadi pada bayinya,” kata dr. Charles.
“Lebih mudah kalau dirujuk ibunya dalam keadaan hamil. Kalau sudah lahir ini repot,” tambahnya.
USG selamatkan dua nyawa: mama dan bayi.
“Jangan sampai ada hipertensi, jangan sampai ada letak plasentanya yang menutupi, karena kalau tiba-tiba pendarahan dan kita tidak tahu riwayatnya kan bisa membahayakan ibunya,” tutupnya.
Gadiel Gombo


