Wamena,kliktimur.com
Lapangan Hepuba, Distrik Asolokobal, mendidih. Bukan cuma karena api, tapi karena semangat. Ribuan warga Jayawijaya tumpah ruah dalam kegiatan Masak Besar Kuali Merah Putih yang digagas Bobon Santoso bersama Kodam XVII/Cenderawasih. Kegiatan tersebut berlangsung di distrik Asolokobal sabtu (25/7/2026) di Wamena provinsi Papua pengunungan
Bupati Jayawijaya Atenius Murip, S.H., M.H. hadir langsung. Duduk satu barisan dengan Pangdam XVII/Cenderawasih, jajaran TNI-Polri, hingga warga dari 6 distrik. Kompor menyala, sendok besar beradu, dan makanan dibagikan langsung.
“Masakan Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita”
Demikian Bupati Atenius Murip menyebut ini kegiatan yang beda dari biasanya.
“Hari ini luar biasa. Kita menikmati Kuali Merah Putih inisiasi Pak Bobon Santoso. Semua dikerjakan bersama dalam suasana sukacita yang belum pernah ada sebelumnya,” Tambah Bupati.
Ia kagum dengan kuali raksasa yang dipakai. 1 kuali bisa untuk 2.000 orang. Kalau 2 kuali penuh, 4.000 warga bisa makan bareng.
Bupati juga menegaskan budaya lokal tetap jalan.
“Kita tidak tinggalkan bakar batu. Itu identitas kita orang pegunungan. Hari ini Kuali Merah Putih, nanti bakar batu tetap ada di momentum lain,” jelasnya.
Atas nama Pemkab dan masyarakat, Bupati mengucapkan terima kasih ke Bobon Santoso. “Semoga semangat kebersamaan ini terus dibawa ke daerah lain di Indonesia,” tambahnya.
Bobon: Ini Soal Persaudaraan, Bukan Cuma Masak, Bobon Santoso, mengatakan, tujuan utama bukan sekadar masak-masak.
“Kita mau bangun persaudaraan, pererat silaturahmi, dan jaga semangat kebhinekaan,” ujar Bobon.
Ia mengaku paling terkejut dengan antusiasme warga Wamena. “Selama keliling Indonesia, semangat masyarakat Papua Pegunungan ini yang paling luar biasa,” katanya.
Hari itu tim mengolah ±10 ekor babi, 2 ekor sapi, dan hampir 4 ton bahan pangan . Semua dimasak di tempat dan langsung dibagikan. Yang masak bukan cuma koki, tapi juga Pemkab, TNI, dan warga dari 6 distrik yang bahu-membahu.
Satu Kuali, Satu Rasa dan Acara ditutup dengan makan bersama. Tidak ada sekat. Pejabat, TNI, dan warga satu antrian, satu meja.Kegiatan ini jadi bukti nyata: di Jayawijaya, perbedaan bisa disatukan lewat satu kuali besar.(Gadiel Gombo)
Eksplorasi konten lain dari Kliktimur
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


