Soroti Utang Daerah dan Kontribusi Oksigen, Pemprov Minta Dukungan Anggaran Sosialisasi FOLU Net Sink Tiap TahunWamena, kliktimur.com – Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan menyoroti besarnya beban utang daerah di tengah kontribusi besar wilayahnya dalam menyediakan oksigen bagi dunia. Uajar dalam sambutan Gubernur provinsi Papua pegunungan John Tabo Hal itu disampaikan dalam kegiatan sosialisasi Subnasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 di Wamena.“Post-APBD kita di situ tentang dana-dana BTT atau hasil utang itu, kita punya utang ini besar. Tapi oksigen kita berikan kepada dunia ini luar biasa, tapi kita dapatnya nol di situ,” ujarnya. Di salah satu hotel balim pilamo wamena, Selasa,(21/4/2026)Karena itu, ia meminta perhatian Menteri Kehutanan dan Direktur Jenderal terkait agar kontribusi ekologi Papua Pegunungan mendapat dukungan nyata. “Mohon supaya Bapak Menteri Kehutanan dan Ibu Dirjen tolong perhatikan, supaya utang kita tidak tambah banyak,” katanya.Ia menegaskan pentingnya menjaga hutan, emisi, dan lingkungan demi dunia. Namun hal itu harus dibarengi sosialisasi masif ke masyarakat. “Agar supaya kita ingatkan, sosialisasikan kepada masyarakat ini, supaya tetap paru-paru dunia kita jaga, emisi kita jaga, semuanya kita jaga.”Minta Sosialisasi Rutin dan Anggaran Sampai KampungPemprov berharap kegiatan sosialisasi FOLU Net Sink dilakukan rutin setiap tahun dengan dukungan anggaran yang memadai. Sosialisasi harus menjangkau semua tingkatan pemerintahan, mulai dari kabupaten, provinsi, distrik, hingga desa dan kampung.“Intinya sosialisasi ini kita harap terus setiap tahun lakukan, dengan mohon anggarannya disediakan supaya kita dari kabupaten, provinsi, sampai tingkat distrik, sampai desa, sampai kampung bisa kita sosialisasikan untuk rasa memiliki dengan baik,” tegasnya.Pihaknya menyatakan siap mengirim perwakilan jika diundang kembali oleh Kementerian Kehutanan untuk pelatihan terkait organisasi FOLU Net Sink 2030. “Kita menunggu undangan dari Bapak Menteri dan Ibu Dirjen, kita pasti kirim orang-orang kita untuk dilatih.”Lanjut Tempat yang samaDewan Penasihat Ahli Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, Dr Ruanda Agung Sugardiman, menegaskan Papua menjadi harapan terakhir atau last barrier bagi stok karbon Indonesia. Hal itu disampaikan di sela kegiatan FOLU Net Sink 2030 di Wamena, Papua Pegunungan.Ia menjelaskan, FOLU Net Sink memiliki tiga aksi utama. “Pertama aksi mitigasi untuk pengendalian emisi, kedua mempertahankan hutan tetap ada, ketiga menambah stok karbon,” ujar Ruanda.Penyerahan bibit tanaman dalam kegiatan tersebut, kata dia, merupakan simbolisasi untuk menambah stok karbon sekaligus menambah tutupan hutan di Papua. “Artinya menambah tutupan-tutupan hutan di Papua sini. Tadi Pak Gubernur minta, banyak areal untuk kebutuhan pembangunan terpaksa melakukan penebangan kayu-kayu besar sehingga sudah berkurang di sini. Kegiatan FOLU Net Sink salah satunya adalah menambah tutupan hutan, berarti menambah kayu-kayu yang ada di sini,” jelasnya.Papua Jadi Penopang Oksigen NasionalRuanda menyebut peran Provinsi Papua Pegunungan sangat besar bagi Indonesia. Tutupan hutan di Pulau Papua secara keseluruhan masih di atas 70%. Kondisi itu berbeda jauh dengan Jawa.“Kalau di Jawa coba bayangkan, Pulau Jawa yang padat penduduknya, 60% penduduk Indonesia ada di Pulau Jawa, tapi tutupan hutannya tinggal 18%. Artinya produksi oksigen di Jawa itu kurang untuk jumlah penduduk yang begitu banyak,” paparnya.Sementara Kalimantan tutupan hutannya mulai berkurang. Sumatera juga mengalami penurunan akibat kebakaran hutan. “Nah Papua ini yang menjadi harapan Indonesia untuk tetap menjaga tutupan hutannya. Ini menjadi tulang punggung Indonesia untuk menjaga stok oksigen kita,” tegas Ruanda.Ruanda hadir dalam kapasitasnya sebagai Dewan Penasihat Ahli Indonesia FOLU Net Sink 2030 atas penugasan Menteri Kehutanan. Ia menekankan, mempertahankan hutan Papua berarti menjaga keseimbangan emisi dan produksi oksigen nasional.FOLU Net Sink 2030 sendiri merupakan komitmen Indonesia agar sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya mencapai kondisi penyerapan emisi gas rumah kaca lebih besar dibanding emisi yang dilepas pada 2030.(Gadiel Gimbo)
Eksplorasi konten lain dari Kliktimur
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

