Wamena, kliktimur.com — Yayasan Bantulah Usaha Pemberantasan Buta Huruf Indonesia (YBUPBHI) Papua Pegunungan mendorong pengembangan Sekolah Rakyat (SR) dengan metode pembelajaran ala Bung Karno di pelosok wilayah Papua Pegunungan. Metode ini menitikberatkan pada pengenalan lima huruf vokal, yakni A, I, U, E, dan O, sebagaimana pernah diterapkan oleh Proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan guru Sekolah Rakyat Huruf Bung Karno yang digelar di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Sabtu (24/1/2026). Pelatihan ini diikuti sejumlah guru Sekolah Rakyat yang sebagian besar berasal dari wilayah pinggiran kota serta daerah zona 3 dan 4, yang menjadi basis pendidikan YBUPBHI.
Direktur YBUPBHI Papua Pegunungan, Bertus Asso, mengatakan pelatihan ini bertujuan membekali para guru dengan metode pembelajaran Huruf Bung Karno agar dapat diterapkan secara efektif di kampung-kampung.
“Kegiatan hari ini adalah pelatihan bagi guru-guru Sekolah Rakyat yang mengajar di kampung-kampung referensi. Kami mengacu pada pembagian empat zona pendidikan yang dikemukakan oleh Jams Modouw,” ujar Bertus Asso.
Menurutnya, metode pembelajaran lima huruf vokal Bung Karno menjadi fondasi utama dalam pengembangan Sekolah Rakyat di Papua Pegunungan. Ia menilai pendidikan bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah para pendiri bangsa.
“Semua berawal dari sejarah yang telah dimulai para pendahulu. Saya menemukan kembali metode lima huruf vokal yang diajarkan Bung Karno. Lima huruf ini menjadi kekuatan dasar untuk menggerakkan pendidikan,” kata Asso, yang juga merupakan penulis buku Huruf Bung Karno.
Bertus Asso menjelaskan, konsep Sekolah Rakyat yang dikembangkan YBUPBHI menyasar wilayah pelosok dan perkampungan. Konsep tersebut merupakan adopsi dari Sekolah Rakyat yang pernah digagas Bung Karno di Madiun, tidak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Konsep inilah yang kami gerakkan di Papua Pegunungan. Harapannya bisa menyebar ke seluruh pelosok Papua dan bahkan Indonesia. Arsip Sekolah Rakyat ini bersumber dari Arsip Nasional Republik Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, para trainer akan mentransfer langsung metode pembelajaran Bung Karno kepada guru-guru yang telah disiapkan oleh YBUPBHI.
“Apa yang dilakukan Bung Karno, itulah yang kami terapkan apa adanya. Tanpa bantuan siapa pun, saya terus bergerak, dan syukur saat ini sudah berkembang di beberapa kabupaten,” ungkap Asso yang juga menjabat Wakil Ketua III DPRP Papua Pegunungan.
Di sisi lain, Bertus Asso menilai program Sekolah Rakyat yang saat ini didorong oleh Presiden RI Prabowo Subianto seharusnya berpijak pada metode Sekolah Rakyat Bung Karno agar lebih efektif dan membumi.
“Sekolah Rakyat harus kembali mengacu pada pendiri bangsa. Metode Bung Karno lebih efektif karena benar-benar turun ke rakyat. Dari sisi pendidikan, saya menyampaikan bahwa saya adalah penyambung lidah Bung Karno,” pungkasnya.
(Gadiel Gombo)
Eksplorasi konten lain dari Kliktimur
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

