Wamena, Kliktimur.com — Rabu siang itu, 28 Oktober 2026. Aula Hotel Baliem Pilamo Wamena tidak seperti biasanya. Ada haru yang menggantung di udara. Ada air mata yang jatuh diam-diam.
Di atas podium berdiri Dr. SURIEL SEMUEL MOFU, S.Pd., M.Ed., TEFL., M.Phil (Oxon), pejabat Eselon 2 Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Sains dan Teknologi RI. Dosen Oxford itu datang jauh-jauh bukan sekadar memberi sambutan. Ia datang membawa kepastian.
Kepastian itu untuk 70 anak Papua yang hari itu resmi menyandang gelar sarjana. 41 Agribisnis,30 Agroteknologi
Sambutannya ia buka pelan, tapi jelas.
“Selamat dan sukses kepada saudara-saudara atas keberhasilan saudara-saudara menyelesaikan pendidikan tinggi saudara-saudara di STIPER Petra Baliem Wamena,” kata Dr. Suriel.
Lalu ia menoleh ke pimpinan kampus.
“Saya juga menyampaikan selamat kepada STIPER Petra Baliem Wamena yang telah menjaga kualitas pendidikan tingginya, dapat mengelola pendidikan tinggi ini dengan baik,” ujarnya.
Dan di titik inilah ia memberi penegasan yang paling ditunggu para wisudawan dan orang tua — soal ijazah.
“Tentu saja ijazah dan gelar sarjana yang diberikan oleh STIPER Petra Baliem Wamena memiliki legitimasi nasional yang diakui,” tegasnya.
Kalimat itu ia sambung tanpa ragu.
“Yang dapat saudara-saudara gunakan untuk melanjutkan jenjang pendidikan saudara-saudara magister bahkan sampai ke tingkat profesor maupun mendapatkan pekerjaan baik di dalam maupun di luar negeri,” sambungnya.
“Karena STIPER Wamena adalah salah satu perguruan tinggi swasta yang resmi berada di bawah kendali dan koordinasi Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi RI, dan oleh sebab itu kualitasnya dijamin oleh negara,” pungkasnya.
Tepuk tangan pecah. Lega.
Tentang Gubernur, Bupati, dan Orang Tua yang Berdiri
Dr. Suriel tidak lupa menyebut pemerintah daerah.
“Ucapan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Gubernur Papua Pegunungan dan Bupati Jayawijaya atas berbagai perhatian dan dukungan yang diberikan terhadap pengembangan perguruan tinggi yang ada di Kota Wamena,” katanya.
Tapi momen paling halus hari itu bukan soal pejabat. Melainkan soal mama dan bapa.
Di tengah pidato, Dr. Suriel tiba-tiba berhenti. Ia melihat ke kursi-kursi belakang.
“Kepada orang tua, kalau di dalam sini ada orang tua, ada bapak, ada mama, ada om, ada tante, ada kakak adik yang datang karena keluarganya diwisuda, saya mohon berdiri,” pintanya.
“Silakan berdiri bapak ibu yang punya anak-anak di sini,” ujarnya lagi.
Satu per satu orang tua berdiri. Ada mama yang menutup mulut menahan tangis. Ada bapa tua yang mengusap mata.
“Mari kita beri tepuk tangan, teman-teman, karena kamu yang pakai toga hari ini itu karena doa, kerja keras, air mata orang tua. Hari ini telah membuahkan hasil,” katanya lembut.
“Kamu luar biasa sekali, bukan main-main. Kamu sangat luar biasa,” tegasnya. Ruangan kembali bergemuruh.
70 Sarjana yang Tidak Biasa
Bagi Dr. Suriel, 70 sarjana yang diwisuda hari itu bukan angka biasa.
“Kalian 70 sarjana. Kalau jurusan ekonomi, ilmu sosial itu biasa. Tapi sarjana pertanian itu bukan biasa-biasa, itu luar biasa dan tidak banyak jumlahnya,” katanya.
“Tidak pasti di bawah 100, karena itu jurusan yang sulit, jurusan yang susah, tapi kamu bisa. Kamu bisa menyelesaikan pendidikanmu di STIPER,” ujarnya.
Ia menyebut mereka sebagai produk asli tanah.
“Kamu tamat dari perguruan tinggi di Kota Wamena, kamu sarjana asli produk tanah ini, yang lahir di dalam kamar sendiri, di dalam rumah kamu sendiri, di dalam tanah kamu sendiri,” katanya.
“Kamu tidak kasih tinggal tanah ini dan tanah ini memberkati kamu. Besok kamu jadi orang hebat,” pesannya.
Ada logika ekonomi sederhana yang ia selipkan, tapi dalam.
“Kalau kita kasih sekolah anak-anak di sini, uang dia putar di Wamena saja, dia tidak keluar ke mana-mana,” jelasnya.
“Kenapa kasih keluar ? Kalau dong ada di sini, alam adalah universitasnya, adat dan budaya adalah universitasnya. Adat tidak akan hilang, budaya tidak akan hilang, bahasa tidak akan hilang karena dong tidak kemana-mana, dong ada di sini tanah mereka sendiri,” ujarnya.
Kita Punya Dua Otak, Tapi Perhatian Kita Dicuri
Masuk ke bagian paling dalam, Dr. Suriel bicara soal zaman. Tentang HP. Tentang perhatian yang diam-diam dijajah.
“Hari ini kita hidup punya dua otak. Otak pertama kita sendiri, otak kedua kita adalah Google dan AI. Kalau ada soal sulit, tinggal tanya Google, dalam hitungan detik dia jawab cepat sekali. Itulah otak kedua Anda,” jelasnya.
“Tapi di sinilah masalahnya, kita jadi orang-orang yang bingung hari ini. Kenapa? Karena perhatian kita dicuri,” tegasnya.
Ia membedah makna sebuah kata bahasa Inggris.
“Harta yang paling berharga hari ini modal Anda yang paling berharga hari ini itu dua saja, satu Tuhan, dua waktu,” katanya.
“Siapa bisa mendapatkan perhatian manusia, dia akan kaya raya. Waktu itu uang. Tapi cara menghabiskannya adalah dengan perhatian,” ujarnya.
“Perhatian dalam bahasa Inggris itu attention, tapi kalau bilang pay attention artinya bayar perhatian. Dan itu yang terjadi, perhatian anda diuangkan lewat HP ini,” jelasnya.
“Orang lain dapat uang dari pagi sampai malam karena algoritma HP ini merekam apa yang kau mau. Dari pagi sampai malam pukul 03.00 tidak tidur, cek HP terus. Itu karena perhatianmu dicuri,” tegasnya.
Lalu ia beri jalan keluar, sederhana tapi dalam.
“Oleh sebab itu, jadilah tuan atas perhatian Anda. Supaya kau pakai perhatian ini untuk bikin apa yang kau mau terjadi di dalam hidup,” pesannya.
“Kalau tidak, maka perhatianmu akan dijajah orang lain. Orang yang perhatiannya dijajah, selesai, dia akan terjajah selama-lamanya, dia tidak akan pernah merdeka,” tambahnya.
“Caranya hanya satu, berdoa. Tuhan lewat Roh-Nya, kendalikan saya punya pikiran dan perhatian setiap hari. Bikin apa saja bikin untung, jangan bikin rugi,” ujarnya.
Tidak Ada Orang Pintar, Tidak Ada Orang Bodoh
Di akhir, ia pulang ke Oxford. Ke sebuah tulisan di dinding kampusnya dulu.
“Waktu saya kuliah di Oxford, ada tulisan di dinding, bunyinya begini: The more I learn, the more I forget, and the less I know. Semakin saya belajar, semakin saya tahu saya tidak tahu,” ceritanya.
“Jadi di sini tidak ada orang yang pintar, tidak ada orang yang bodoh. Yang ada itu cuma yang tahu dengan yang belum tahu saja,” tegasnya.
“Yang sudah tahu duluan jangan sombong kepada yang belum tahu. Kalau belum tahu, cari tahu saja, masalah selesai,” pesannya.
Dan ia tutup dengan pesan yang menggema lama di aula itu.
“Kamu mau berhasil bukan masalah pintar atau tidak. Tantangan hari ini cuma satu, bisakah anda mengendalikan perhatian anda untuk gunakan perhatian itu mendapatkan apa yang Anda mau,” katanya.
“Kamu sarjana pertanian, Papua butuh kamu, tanah ini butuh kamu. Mari jadi tuan di tanah ini. Tapi untuk jadi tuan di atas tanah ini, ko harus jadi tuan atas perhatianmu sendiri dulu,” pungkasnya.
Pidato selesai. Para sarjana menunduk. Orang tua di belakang masih berdiri.
Siang itu, dari Wamena, mereka tidak hanya membawa ijazah yang dijamin negara. Mereka membawa sebuah pesan pulang: bahwa gelar boleh tinggi, tapi yang menentukan masa depan bukan Google, melainkan siapa yang menjadi tuan atas perhatiannya sendiri. (Gadiel Gombo)


